Denyut Nadi Penelitian di Stasiun Ketambe

  • Whatsapp

Dua pria terlihat keluar dari balik belantara yang masih tertutup kabut. Mereka lalu mendekati perahu kayu yang bersandar di bebatuan pada bantaran Sungai Alas. Sungai itu menjadi batas antara pemukiman warga Gampong Ketambe, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Menumpangi perahu itu, keduanya berlayar membelah alur dari sungai terpanjang di Provinsi Aceh untuk sampai ke seberang. Penyeberangan perahu berukuran tak lebih dari panjang truk pasir itu bertumpu pada tali tambang di dua daratan tersebut.

“Sudah lama sampai bang?” tanya salah seorang pria bernama Makmur kepada saya dan beberapa jurnalis dan fotografer yang menunggu mereka di seberang, saat keduanya tiba di daratan Gampong Ketambe.

“Enggak, baru baru sampai juga,” timpal Junaidi, salah seorang fotografer sambil melangkah menaiki perahu yang tak tertamban ke darat. Sejurus kemudian, perahu pun kembali membelah Sungai Alas.

Perahu menepi, namun tak habis menyentuh daratan. Ikan-ikan kecil mengitari tepian sungai, seakan menemani kami yang sedang melakukan bongkar muatan.

Usai menambat perahu, Makmur dan rekannya bernama Farhan, membimbing kami masuk ke hutan. Kupu-kupu beragam warna dan ukuran berterbangan seolah menyambut langkah kami yang akan menyusuri hutan primer tersebut.

Ratusan langkah telah disusuri. Di balik rimbunnya hutan, sebuah pamflet putih tegak berdiri dengan latar pohon yang belum tentu mampu dipeluk lima orang dewasa. Pamflet itu berisi tulisan ‘Stasiun Penelitian Ketambe, Aceh Tenggara, Provinsi Aceh’.

Tak jauh dari situ, terlihat beberapa bangunan berkonstruksi beton dan kayu yang tak beraturan. Bangunan itu adalah Stasiun Penelitian Ketambe. Ini tempat bagi para aktivis lingkungan maupun peneliti meriset tumbuhan dan satwa di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser.

Kedatangan kami disambut langsung oleh Arwin, orang yang dipercaya menjadi kepala Stasiun Penelitian Ketambe sejak 2014 silam. Ia mengurus tempat tersebut bersama Makmur, Farhan, dan seorang wanita paruh baya yang kerab dipanggil Bibi.

Petugas Stasiun Penelitian sedang melakukan pencatatan. Foto: Muhammad

Stasiun Penelitian Ketambe merupakan laboratorium alam yang kini fokus pada penelitian orang utan sumatera serta jenis-jenis penelitian lainnya dan pusat pengamatan rangkong.

Kata Arwin, tempat ini pertama kali didirikan oleh seorang peneliti Belanda bermana Herman D Rijksen pada tahun 1971. Pembangunannya didanai oleh Netherlands Foundation for the Advancement of Tropical Research dan Netherlands Appeal of the World Wildlife Foundation.

Luas lahan yang dimiliki saat itu hanya 1,5 hektare dengan fungsi sebagai tempat rehabilitasi orang utan sitaan dari penduduk serta tempat penelitian orang utan liar.

“Ini berdasarkan cerita dari kakek saya yang kala itu bekerja sebagai staf Herman D Rijksen di Stasiun Penelitian Ketambe,” ujar Arwin menceritakan.

Alasan dipilihnya tempat yang diapit oleh Sungai Ketambe dan Sungai Alas tersebut, lantaran kawasan itu kaya dengan tumbuhan pakan orang utan, seperti jenis-jenis beringin (Ficus), durian (Durio) dan banyak jenis tumbuhan lainnya.

Orang utan yang direhabilitasi kala itu rata-rata adalah orang utan sitaan dari warga. Tingkah lakunya dikatakan kepala Stasiun Penelitian Ketambe, tidak sama dengan orang utan liar yang ada di hutan. Mereka kerap memakan kertas, mencuri baju, dan melakukan hal lainnya layaknya manusia.

Takut mempengaruhi orang utan liar yang ada, belakangan pada Februari 1979, fungsi stasiun itu tak lagi digunakan sebagai tempat merehabilitasi orang utan, melainkan hanya difokuskan sebagai tempat penelitian.

Sementara, pusat rehabilitasi orang utan dipindahkan dari Ketambe ke Stasiun Rehabilitasi Orang Utan Bohorok, di Langkat, Sumatra Utara.

Baca Juga:

“Itu dipindahkan karena orang utan yang telah direhabilitasi tersebut tidak bisa disatukan dengan orang utan liar. Terlalu banyak risikonya, terutama dari segi kesehatan sebab orang utan ini merupakan binatang yang sangat mudah tertular dan menularkan penyakit,” jelas Arwin.

Di tahun yang sama, pengukuran luas lahan Stasiun Penelitian Ketambe kembali dilakukan oleh Chris Schrumann. Sejak saat itu, tempat yang dijadikan pusat penelitian tersebut kini memiliki luas 450 hektar.

Setahun kemudian atau tepatnya 1980, pengelolaan stasiun yang telah menjadi pusat penelitian orang utan itu diserahkan ke Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA).

Sejak jadi laboratorium alam, Stasiun Penelitian Ketambe mulai sering dikunjungi oleh para peneliti botani maupun satwa dari berbagai universitas dalam maupun luar negeri.

Bahkan, Arwin mengaku, sejak dirinya bekerja di stasiun tersebut pada 1997, sedikitnya ada 10 peneliti yang datang dalam setahun dari satu universitas.

“Seperti tahun 1998-2000, waktu itu puncak orang melakukan penelitian cukup banyak. Itu rata-rata satu univeristas paling sedikit mendatangkan 10 orang peneliti. Masa-masa itu, memang cukup padat peneliti,” ungkapnya.

Aktivitas penelitian di Stasiun Penelitian Ketambe sempat vakum di tahun 2011. Rumah panggung kayu yang ada di kawasan komplek pusat penelitian tersebut dibakar oleh orang tidak dikenal. Sedangkan Arwin, kala itu sudah tidak lagi bekerja di situ. Ia dipercaya menjadi keuchik (kepala desa) Gampong Ketambe sejak 2007.

“Jadi usai kebakaran tahun 2011, hangus menjadi arang semua. Ini kemudian ditutup dan dibuat edaran –ditiadakannya lagi penelitian–,” kata Arwin menceritakan.

Pohon raksasa yang bisa ditemukan di kawasan Ketambe. Foto: Muhammad

Tiga tahun berlalu, tepatnya 2014, komplek Stasiun Penelitian Ketambe telah dipenuhi semak belukar dan beberapa jenis pohon berkayu lembek. Padahal sebelumnya, enam unit rumah panggung yang setiap rumahnya memiliki empat kamar tidur dan dua kamar mandi, berdiri kokoh.

Keadaan itu membuat salah seorang aktivis lingkungan, Rudi (pendiri Forum Konservasi Leuser) yang juga pernah melakukan penelitian di tempat itu merasa prihatin. Ia seolah tidak percaya jika tempat yang membantunya menyelesaikan studi tersebut kembali menjadi belantara.

Rudi lalu mengajak Arwin –yang sudah menjabat sebagai keuchik– mendirikan lagi pusat riset orang utan tersebut. Mereka lalu melakukan pendekatan dan membuat kesepakatan kepada Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser  untuk diberikan kepercayaan mengelolanya.

“Dari situ kita FKL diberikan kepercayaan untuk mengelola,” terangnya.

Bersama warga Gampong Ketambe, FKL lalu membersihkan lahan bekas komplek Stasiun Penelitian Ketambe. Barak pun kembali berdiri di tempat itu meski tidak memiliki perlengkapan penelitian seperti sebelumnya.

Pembangunan terus dilakukan hingga akhirnya Stasiun Penelitian Ketambe resmi kembali berdiri dan dibuka sebagai pusat riset pada 12 November 2015.

Prasasti hitam yang dibubuhi tinta emas dari tandatangan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tachrir Fathoni, serta Bupati Aceh Tenggara, Hasanuddin; Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Andi Basrul kini terpampang di satu sisi dari komplek penelitian tersebut.

Bertugas di hutan. Foto: Muhammad

Stasiun Penelitian Ketambe masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, kawasan hutan yang terbilang masih primer dan tak boleh dirambah.

Kebanyakan tanaman di hutan tersebut berjenis tanaman keras atau tahunan. Tak heran di kawasan ini dapat dengan mudah menemukan pepohonan berdiameter lebih dari satu meter dan usianya mencapai ratusan tahun.

“Kalau hutan primer, dia itu jenis tanaman keras dan betul-betul tanaman yang sudah memiliki umur ratusan tahun, seperti meranti, perlak, dan pohon lainnya,” kata Arwin.

Hutan primer seperti stasiun penelitian juga jadi habitat beragam jenis satwa dan tumbuhan. Selain orang utan, ada jenis primata lainnya seperti kukang sumatera (Nycticebus coucang), monyet ekor panjang, beruk, kedih, sarudung, siamang. Ada juga gajah, badak, macan dahan dan beruang madu, termasuk juga rangkong serta jenis burung lainnya.

Dari empat satwa kunci seperti orang utan, gajah, badak, serta harimau, hanya gajah dan badak yang diakui Arwin, mulai sulit ditemukan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Padahal di bawah tahun 2000-an, keempatnya dapat dengan mudah dijumpai.

Perambahan hutan di pinggiran Taman Nasional Gunung Leuser, diduga menjadi salah satu penyebab satwa-satwa tersebut sulit ditemukan lagi.

“Ini kan termasuk binatang langka dan tidak suka berdekatan dengan manusia, kalau menurut saya. Karena manusia ini kan suka melakukan perambahan sehingga dia semakin menjauh. Itu karena mereka takut diburu. Jadi untuk melindungi dirinya, dia lebih memilih menjauh ke dalam,” ungkap pria berusia 41 tahun tersebut.

Untuk tumbuhan, selain jenis-jenis beringin (Ficus) dan durian (Durio), di hutan primer juga terdapat suku meranti-merantian (Dipterocarpaceae), seperti Shorea multiflora, Shorea leprosula, Vatica Wallichii, Parashorea malaanonan, Shorea dan Vatica.

Arwin tidak tahu pasti berapa jumlah satwa dan tumbuhan dilindungi yang ada di kawasan Stasiun Penelitian Ketambe. Sebab belum ada penelitian mengenai flora dan fauna di dalamnya sehingga tidak ada data terbaru.

“Kalau data itu saya kurang tahu pasti, karena untuk mengumpulkan data itu kita harus sesuai dengan penelitiannya. Seperti sekarang, data sudah beberapa tahun tidak ada yang mengerjakan penelitiannya,” ujarnya.

Mengumpulkan data di lapangan. Foto: Muhammad

Menjadi habitat bagi satwa dan tumbuhan dilindungi, Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya Stasiun Penelitian Ketambe pun rentan terhadap sejumlah ancaman dan kendala.

Letak stasiun yang berdiri sejak 1971 tersebut diapit oleh dua sungai, yakni Sungai Ketambe dan Sungai Alas. Sehingga untuk dapat mengakses ke pusat penelitian ini harus menggunakan perahu kayu seperti saat Makmur dan Farhan menjemput kami sebelumnya.

Akses yang hanya memanfaatkan alur sungai ternyata menjadi kendala tersendiri bagi stasiun penelitian tersebut, terutama saat debit air sungai sedang tinggi. Hal ini memaksa Arwin dan kawan-kawan hanya bisa memasok pasokan makanan melalui katrol saja.

“Jadi akses penyeberangannya betul-betul terkendala. Terkadang debit airnya sampai seminggu tidak turun-turun sehingga kita tidak bisa menyeberang,” kata dia.

Walaupun begitu, akses menggunakan perahu diakuinya lebih efektif daripada membangun jembatan penyeberangan. Sebab, keberadaan jembatan dianggap lebih mengancam satwa serta tumbuhan yang ada di kawasan Taman Leuser.

“Karena itu akan membuat kawasan ini bebas, sebab kawasan ini bukan tempat wisata. Kalau sudah semakin banyak orang masuk, tentu akan membuat kerusakan. Contoh kecilnya, kalau memang sudah ada jembatan, tumbuhan yang sedang tren saat ini akan diambil dan di tempat kita ini tumbuhan tersebut banyak,” ujar Arwin

Air dari Sungai Alas yang membatasi Stasiun Penelitian Ketambe dengan pemukiman warga Gampong Ketambe, merupakan kunci agar kawasan itu tidak mudah dimasuki sembarangan orang.

“Dengan adanya jembatan, itu tidak menjamin keamanan di stasiun ini karena banyak orang masuk. Mungkin awalnya masuk hanya jalan-jalan namun bisa saja timbul niatnya ketika melihat satwa dan tumbuhan di sini,” imbuhnya.

Guna menjamin kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab, biasanya para ranger akan melakukan patroli rutin.

Setiap subjek penelitian didata secara terperinci. Foto: Muhammad

Menjadi laboratorium alam bagi kegiatan penelitian botani dan zoologi membuat Stasiun Penelitian Ketambe kerap dikunjungi oleh berbagai tingkat peneliti mulai dari sarjana, magister, doktoral, hingga profesor baik dari dalam maupun luar negeri guna menyelesaikan studi mereka.

Ada sejumlah nama peneliti terkenal yang pernah melakukan penelitian di stasiun seluas 450 hektar tersebut. Di antaranya, Dr Chris Schrümann (1975-1979), Dr Carel van Schaik (1979-1984), Dr Maria van Noordwijk (1979-1984), Dr Jito Sugardjito (1979-1983), Dr Tatang Mitra Setia (1991-1993), Dr Serge Wich (1993-1995, 1998-2000), dan Dr Sri Suci Utami Atmoko (1993-1996).

Sebagai tempat yang memang dikhususkan untuk penelitian, maka Stasiun Penelitian Ketambe, sengaja tidak dibuka untuk wisatawan umum.

“Kalau untuk wisata kemari memang tidak boleh. Ini memang sesuai namanya sebagai pusat penelitian, Stasiun Penelitian Ketambe. Jadi untuk wisata kita tidak memperbolehkan,” tegasnya.

Berdasarkan situs gunungleuser.or.id, tata tertib peneliti maupun pengunjung yang ingin datang ke Stasiun Penelitian Ketambe yakni sebagai berikut:

  1. Wajib melapor kepada manajer stasiun dengan menyerahkan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi),
  2. Wajib didampingi oleh petugas stasiun penelitian,
  3. Wajib menjelaskan rencana kegiatan penelitian kepada pendamping sebelum kegiatan penelitian dimulai,
  4. Menuliskan kegiatan harian penelitian di buku catatan harian (logbook),
  5. Saling toleransi, bersikap sopan santun serta perhatian antara pengunjung, peneliti dan pengelola di stasiun penelitian dan selama melaksanakan kegiatan, pengunjung dan peneliti dilarang mengganggu, merubah, atau merusak ekosistem kawasan antara lain melakukan penebangan pohon, melukai pohon, mengganggu kesejahteraan satwa, membunuh satwa, membuat suara menyerupai satwa, dan memberikan makanan kepada satwa,
  6. Dilarang membawa alkohol dan ‘narkoba’ yang tidak mendukung kegiatan penelitian dan atau pengambilan sampel,
  7. Dilarang melakukan hal-hal yang mengganggu kenyamanan aktivitas di stasiun penelitian seperti berkelahi, melakukan kekerasan, mengganggu dan menyalahgunakan hak milik orang, membuat kegaduhan merusak atau menghancurkan properti umum dan milik orang lain,
  8. Dilarang meninggalkan stasiun penelitian tanpa sepengetahuan manajer stasiun penelitian,
  9. Wajib menjaga kebersihan stasiun penelitian dengan membuang sampah dalam tempat yang disediakan atau dibawa saat meninggalkan stasiun penelitian,
  10. Dilarang membuang sampah atau benda-benda tidak mudah larut air ke dalam toilet di pipa pembuangan (seperti putung rokok, plastik, kain, dan lain-lain),
  11. Pengunjung dan peneliti menggunakan sarana dan prasarana sesuai dengan pengaturan oleh manajer stasiun penelitian,
  12. Pengambilan data di lapangan yang dilakukan oleh peneliti wajib sepengetahuan pendamping penelitian,
  13. Bagi peneliti yang akan mengambil sampel wajib mengisi catatan pengambilan sampel,
  14. Peneliti wajib melaporkan catatan pengambilan sampel kepada manajer stasiun penelitian pada hari terakhir kegiatan penelitian,
  15. Jumlah dan jenis sampel yang diambil harus sesuai dengan SK Pengambilan Sampel, apabila ada kelebihan pengambilan jenis dan jumlah sampel oleh peneliti maka kelebihan tersebut diserahkan dan disimpan oleh manajer stasiun penelitian untuk penanganan lebih lanjut,
  16. Kegiatan perizinan dan pelaporan khusus peneliti wajib mengikuti tata cara yang diatur secara terpisah.

Keberangkatan tujuh jurnalis ke Kawasan Ekosistem Leuser di Ketambe (Aceh Tenggara) dan Soraya (Aceh Selatan) difasilitasi oleh Forum Konservasi Leuser bekerja sama dengan Taman Nasional Gunung Leuser, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah 6, dan disponsori oleh Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatra.

Penulis: Muhammad

Pos terkait