Leumang, Penganan Paling Diburu Saat Bulan Ramadan

  • Whatsapp

Bambu buluh yang telah terisi bahan adonan leumang tertata rapi di perapian. Pria berusia 42 tahun itu tampak sibuk meratakan bara api sembari membolak-balik puluhan bambu buluh muda tersebut.

Asap terus mengepul. Sesekali dia harus mengusap kedua bola matanya karena perih efek dari asap. Namun, ia tetap tak berjarak dari perapian bambu buluh yang berisi bahan untuk bikin leumang. Meskipun sesekali dia harus menjaga jarak, agar kedua bola matanya tak perih.

Kendati demikian, hawa panas dari perapian tersebut tidak membuat pria itu mengeluh. Ia terlihat sangat telaten dalam membolak-balikkan puluhan buluh bambu muda yang berisi ketan dan ubi tersebut.

Dengan menggunakan sarung tangan dan tongkat sepanjang dua meter, pria berkulit hitam itu terlihat berulangkali menjaga dan meratakan bara api yang dijadikan untuk memanggang leumang.

Muhammad Yakob sedang memasak Leumang, kuliner khas Aceh dibutu saat jelang berbuka puasa di Aceh. Rianza Alfandi | readers.ID

Dia adalah Muhammad Yakob (42), sejak 27 tahun lalu bersama orang tuanya telah merintis pembuatan leumang, makanan khas Aceh yang diburu pembeli selama bulan Ramadan.

Awalnya tahun 1994 lalu, bisnis leumang dirintis ibunya Hafsah, karena sudah lanjut usia. Tongkat estafet pembuatan leumang gurih ini dilanjutkan oleh Yacop, sapaan akrap pria tersebut.

Meskipun usia ibunya sudah 70 tahun. Ia tetap masih tetap mendampingi Yacop. Hafsah terlihat hanya membantu mengolah bahan dan selai untuk pembuatan leumang.

Berlokasi di jalan Syiah Kuala, Gampong Lamdingin, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Yakop mengolah dan menjual leumang yang diproduksinya.

Muhammad Yakob sedang memasak Leumang, kuliner khas Aceh dibutu saat jelang berbuka puasa di Aceh. Rianza Alfandi | readers.ID

Di tempatnya Yakop mengolah makanan berbahan dasar beras ketan tersebut menjadi tiga varian, yakni ada leumang putih yang dibuat dari beras ketan putih, leumang hitam dari beras ketan hitam serta leumang ubi yang dibuat dari bahan dasar singkong.

“Di sini ada leumang putih, leumang hitam dan leumang ubi, itu yang ada cuma tiga macam,” kata Yakop disela-sela aktivitasnya, Kamis (15/4/2021).

Dalam mengolah bahan leumang, Yakop dibantu oleh ibunya dan dan 8 pekerja lain yang bertugas memasukkan bahan penganan ke dalam buluh bambu yang sudah dilapisi dengan daun pisang muda.

Muhammad Yakob sedang memasak Leumang, kuliner khas Aceh dibutu saat jelang berbuka puasa di Aceh. Rianza Alfandi | readers.ID

Setelah beras ketan dan bahan lainnya dimasukkan ke dalam ruas buluh bambu, baru kemudian memanggangnya dengan dideretkan di atas bara api.

Proses pembuatan leumang memakan waktu lama, butuh waktu sekitar 3 sampai 4 jam. Di tempat Yakop mereka biasa mulai bekerja sekitar jam 06:00 WIB, sementara untuk pemanggangannya dimulai dari pukul 10:00 WIB sampai pukul 14:00 WIB.
Untuk harga, penganan leumang ini dibandrol mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 100 ribu per buluh bambu. Sedangkan jika dijual perpotong biasanya dibandrol dengan harga Rp 5 – 20 ribu.

“Kalau harganya Rp 40 – 100 ribu, tergantung ukuran bambunya, kalau dipotong-potong harganya ada Rp 5 ribu, Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu,” ujar Yacop.

Muhammad Yakob sedang memasak Leumang, kuliner khas Aceh dibutu saat jelang berbuka puasa di Aceh. Rianza Alfandi | readers.ID

Untuk di bulan Ramadhan per harinya Yakob bisa memanggang sebenyak 70 bambu beras leumang, atau berkisar 100 kilogram beras ketan serta 25 kilogram ubi singkong. Sedangkan hari-hari biasa diluar Ramadan ia hanya memanggang 10 bambu per hari.

“Perhari kami memproduksi 250 batang leumang, kalau per bambu berasnya 70 bambu,” tuturnya.

Leumang yang dijual Yakop bersama ibu dan keluarganya eksis terjual di kalangan masyarakat, terlihat ketika leumang yang dipanggang hampir matang, satu per satu pelanggan mulai berdatangan.

Muhammad Yakob sedang memasak Leumang, kuliner khas Aceh dibutu saat jelang berbuka puasa di Aceh. Rianza Alfandi | readers.ID

Yakop menuturkan, jika leumang yang diproduksinya laku semua, dalam sehari mereka bisa mendapatkan uang hingga Rp 8,5 juta.

“Alhamdulillah habis semua setiap hari, enggak ada yang tinggal,” jelasnya.

Penulis: Rianza Alfandi

Pos terkait