Polemik IPAL, Humas Pemko: Kami Mengundang Secara Kelembagaan

  • Whatsapp

Kabag Humas Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh, Said Fauzan merespon polemik eks kepala desa Gampong Pande membantah sepakat melanjutkan proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Menurutnya, dalam rapat tanggal 3 Maret 2021 lalu membahas kelanjutan pembangunan IPAL. Pemko Banda Aceh tidak mengundang personal, tetapi secara kelembangaan pemerintah.

“Pemko Banda Aceh mengundang secara kelembagaan, bukan personal. Dari Gampong Pande sendiri ada yang datang menghadiri undangan dan mewakili Kepala Desa, yaitu sekrataris desa (Sekdes),” kata Said Fauzan, Kamis (19/3/2021).

Said Fuazaun menyebutkan dalam rapat keputusan itu tidak hanya perwakilan lembaga Gampong Pande saja yang diundang, namun ada pihak-pihak terkait lainnya untuk membahas persoalan tersebut.

Baca Juga:

Lebih lanjut, Said Fauzan mengatakan, rapat pada 3 Februari bulan lalu dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan, T Samsuar.

Turut hadir Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh T Arif Khalifa, Sekda Amiruddin, Kepala Bappeda Weri, Kadis Perkim Rosdi, Kadis Pariwisata Iskandar, Kepala BPPW Aceh, Sekcam serta Muspika Kutaraja, Tim Arkeologi USK, TACB Banda Aceh, BPCB Aceh, perwakilan dari lembaga pemerintah Gampong Pande, dan Geuhiek Gampung Jawa Mukhlis.

Sementara itu, sekretaris desa (Sekdes) Gampong Pande Deo Fickia Ardiansyah saat dihubungi readers.ID mengakui menghadiri rapat keputusan lanjutan pembangun IPAL pada 3 Februari bulan lalu.

Deo mangatakan, saat itu kepala desa Gampong Pande dalam kondisi kurang sehat, sehingga mengutuskan dirinya untuk menghadiri undangan rapat dari pemerintah Kota Banda Aceh.

“Lantaran waktu itu pak Geuchik sedang kurang sehat. Dia juga jarang menghadiri rapat terkait pembangunan IPAL sejak dari dulu,” ujar Deo.

Deo menuturkan setelah rapat keputusan lanjutan pembangun IPAL pada 3 Februari bulan lalu menimbulkan polemik baru di tengah-tengah masyarakat Gampong Pande, setelah beredarnya berita dari laman resmi bandaacehkota.go.id yang dilansir pada 25 Februari 2021.

Setelah isu itu muncul, kata Deo, mulai tumbuh rasa ketidakpercayaan warga terhadap aparatur desa Gampong Pande, termasuk kepada mantan Keuchiek Amiruddin.

“Masyarakat sudah mulai tak percaya lagi kepada kami. Sebagian warga beranggapan dan menuduh kami yang bukan-bukan,” imbuh Deo.

Selain itu Deo juga menjelaskan, selama beredarnya isu tersebut, dirinya dan mantan Keuchiek hampir setiap hari mendapat gunjingan dan cemoohan dari warga.

“Setelah beredar isu tersebut, kami mulai dituduh yang bukan-bukan oleh warga. Ini menjadi beban moral bagi kami, apalagi bagi Keuciek yang masa jabatannya sudah berakhir,” ungkapnya.

Sementara itu, Asisten II Pemerintah kota Banda Aceh Drs. T. Samsuar, M.Si saat dihubungi readers.ID mengatakan, bahwa yang lebih paham terkait hal itu adalah Kepala Dinas Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), T Jalaluddin.

“Yang lebih paham tentang itu adalah Kadis PUPR. Saya kurang paham. Baiknya ketemu saja sama Kadis PUPR. Biliau yang lebih tahu terkait itu,” kata T. Samsuar di seberang telepon celuler.

Kemudian, readers.ID mencoba menghubungi T Jalaluddin melalui sambungat telepon, namun 4 kali dihubungi tak mendapatkan direspon dari yang bersangkutan. Lalu readers.ID mencoba mengirimkan pesan melalui Whatsapp, tapi hanya conteng satu.

Penulis: Adam Zainal

Pos terkait